Mengembalikan Jati Diri Bangsa

Sejak dulu bangsa Indonesia memang di kenal dengan keramah tamahannya, ketata kramaannya dan kereligiusannya. Tidak hanya itu saja, sikap para pahlawan kita seperti Imam Bonjol, Pangeran Dipenogoro dan Teuku Umar begitu tegas terhadap penjajah yang ingin masuk ke Indonesia hanya demi meraup kekayaan yang ada di negara kita. Kita semua tentu masih ingat kita Bung Tomo dengan semangatnya membakar jiwa para pejuang kita untuk mengeluarkan penjajah dari tanah air, beliau juga dengan lantang mengakhiri pidatonya dengan Takbir yang membuat pejuang pejuang kita semakin membara semangatnya. Kita juga tentu masih ingat dengan Raden Ajeng Kartini, sosok yang haus akan ilmu baik itu ilmu dunia maupun ilmu agama, bahkan beliau tidak segan segan untuk datang ke seorang Ustadz untuk bertukar pikiran.

Begitulah karakter bangsa Indonesia tempo dulu yang bangga menunjukkan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Lalu apa yang terjadi sekarang, apakah masyarakat kita masih mempunyai jati diri bangsa, sesuatu yang sangat di perlukan dalam membentuk dan membangun suatu bangsa secara keseluruhan. Kita lihat di media cetak atau di media elektronik, karakter bangsa kita jauh sekali dengan orang orang tua kita dulu, sekarang tiap harinya masyarakat kita selalu di penuhi dengan kekerasan, keegoisan, ketidakpedulian dan kehancuran moral, ini di perparah dengan sikap pemerintah yang masih “nurut” apa kata luar. Sampai kapan hal ini akan terus berlangsung, kapan kita akan mulai mengembalikan jati diri bangsa.

Jawabannya tentu sekarang juga, detik ini juga. Lalu bagaimana memulainya untuk mengembalikan jati diri bangsa ini. Seperti kita membangun suatu bangunan, pertama yang harus kita buat tentu suatu pondasi, sebagus apapun suatu bangunan bila di dukung dengan pondasi yang kuat maka hancurlah bangunan itu. Pertanyaannya, pondasi apa yang cocok untuk jati diri bangsa kita, tentu agama. Karena itu sebenar benar dan sekuat kuatnya pondasi, dan itu juga yang telah ditunjukkan oleh para pejuang dulu kepada kita, tanpa itu semua mana mungkin mereka yang hanya bermodalkan bambu runcing berani melawan musuhnya yang bersenjatakan lengkap, atau para sultanah (pemimpin perempuan) di Aceh yang berani memposisikan dirinya sama dengan pria dalam memimpin pertempuran melawan penjajah, sampai Buya Hamka menulis di dalam bukunya “ Tidak ada pakaian adat di mana pakaian wanitanya menyurapai pakaian pria selain di Aceh”.

Setelah pondasi kita buat dan kita kuatkan, hal selanjutanya yang kita dapat lakukan untuk mengembalikan jati diri bangsa yaitu menghargai dan bersyukur dengan tanah air ini. Banyak atau sedikitnya, setidaknya kita tinggal dan hidup di negara ini, oleh karena itu hargailah dan syukurilah. Ada banyak cara untuk menunjukkannya rasa itu, salah satunya yaitu memakai produk dalam negeri.

Peranan pemerintah dalam proses pembentukan jati diri bangsa juga sangat penting dan bahkan merupakan kuncinya. Pemerintahan yang adil, tegas dan mau berkorban demi rakyatnya sangat di butuhkan untuk mengembalikan jati diri bangsa secara keseluruhan. Namun perlu di ingat juga untuk menjadikan pemerintah seperti itu tentu di butuhkan suatu sistem pemerintah yang sempurna. Apakah sistem sekarang yang bernama demokrasi bisa mewujudkan itu….?. Kita lihat saja.

Di luar itu semua kita pasti berharap semua kebiasaan, kejadian dan peristiwa yang terjadi di negara ini yang merusak moral bangsa ini bisa di atasi dengan cepat dan tepat. Seperti kejadian yang sedang panas sekarang ini yang di beritakan pada beritajitu.com, bahwa akhirnya bukti rekaman KPK di putar di Mahkamah Agung, semoga ini menjadi titik terang terhadap perlawanan korupsi di Indonesia.

Kita berharap semua elemen masyarakat mau ikut berpartisipasi mengembalikan jati bangsa ini, dan ane yakin kita semua pasti BISA.